Interstellar dan Perjalanan Waktu: Ketika Relativitas Einstein Sejalan dengan Ayat-ayat Al-Qur’an

 

Pernah bayangin hidup 1 jam di suatu tempat, tapi di bumi waktu berjalan 7 tahun?
Itu bukan cuma fiksi sains di film Interstellar, tapi sebenarnya punya dasar teori ilmiah yang cukup kokoh: relativitas waktu. Yang lebih menarik, konsep ini ternyata nyambung juga dengan petunjuk Al-Qur’an.

Kilas Balik Film Interstellar

Film Interstellar (2014) garapan Christopher Nolan menceritakan misi luar angkasa untuk mencari planet baru karena bumi sudah nggak lagi layak huni. Salah satu adegan yang paling mind-blowing adalah ketika tim mendarat di planet Miller — sebuah planet yang berada sangat dekat dengan lubang hitam supermasif bernama Gargantua. Karena gravitasi ekstrim dari lubang hitam itu, waktu di planet Miller berjalan jauh lebih lambat dibandingkan waktu di bumi. Satu jam di sana setara dengan 7 tahun di bumi!

Apa ini cuma drama fiksi? Ternyata enggak.

Teori Relativitas Waktu dalam Fisika

Konsep ini berasal dari teori relativitas umum yang dikembangkan Albert Einstein. Singkatnya, semakin kuat gravitasi suatu tempat, semakin lambat waktu berjalan di sana. Ini disebut gravitational time dilation. Jadi, apa yang terlihat seperti keajaiban di film itu, ternyata benar-benar mungkin terjadi — bahkan sudah dibuktikan lewat eksperimen ilmiah dengan jam atom di satelit.

Lalu, Apa Kata Al-Qur’an?

Nah, yang bikin merinding adalah ketika kita melihat bagaimana Al-Qur’an ternyata sudah “menyinggung” konsep serupa. Coba perhatikan ayat ini:

"Dan sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu."
(QS. As-Sajdah: 5)

Atau ini:

"Malaikat dan Jibril naik kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun."
(QS. Al-Ma’arij: 4)

Kalau kita renungi, ayat-ayat ini nggak cuma menyampaikan keagungan Allah, tapi juga memberi clue bahwa waktu itu relatif. Waktu yang kita rasakan di dunia belum tentu sama dengan yang terjadi di alam lain, atau bahkan di sisi Allah.

Fiksi Sains atau Isyarat Ilahi?

Sains modern menjelaskan relativitas berdasarkan gravitasi dan kecepatan cahaya. Sementara Islam menyebut adanya dimensi waktu yang berbeda di sisi Allah atau dalam perjalanan malaikat. Menariknya, dua-duanya tidak bertentangan — justru saling melengkapi. Ilmu pengetahuan membantu kita memahami bagaimana ayat-ayat Allah itu benar adanya, bukan sekadar simbolik.

Hikmah dari Film dan Ayat

Yang keren dari Interstellar bukan cuma efek visual dan ceritanya, tapi bagaimana film ini membuka mata kita tentang betapa luas dan kompleksnya alam semesta. Dan di balik itu semua, Islam sudah memberi petunjuk bahwa realitas ini lebih besar dari apa yang bisa kita lihat dan rasakan.

Ketika dunia barat baru memahami tentang waktu relatif lewat fisika abad ke-20, Islam sudah membisikkan itu sejak 14 abad lalu. Bukan berarti Al-Qur’an adalah buku sains, tapi sebagai petunjuk — yang memberi inspirasi bagi kita untuk berpikir, meneliti, dan bertafakur.


"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal."
(QS. Ali 'Imran: 190)


Comments