Viral Fantasi Sedarah: Rusaknya Sistem Sekuler, Solusinya Kembali ke Islam Kaffah


Belakangan ini publik dikejutkan oleh viralnya grup Facebook bernama Fantasi Sedarah. Grup ini berisi konten menyimpang yang mengusung fantasi seksual antar anggota keluarga sendiri—ayah, anak, saudara kandung—bahkan ada yang memuat pornografi anak. Yang mencengangkan, grup ini memiliki ribuan anggota dari berbagai kalangan.

Fenomena ini tentu bukan sekadar penyimpangan individu. Ini adalah cerminan dari kerusakan sistemik yang dalam dan menyeluruh. Pertanyaannya: kenapa hal menjijikkan seperti ini bisa tumbuh subur? Kenapa banyak orang yang terjerumus dan bahkan menganggapnya sebagai hiburan?

Akar Masalahnya: Sistem Sekuler yang Gagal Menjaga Moral

Kita tidak bisa melihat fenomena ini sebagai kasus yang berdiri sendiri. Ada lima akar utama yang memungkinkan penyimpangan seperti ini terjadi secara masif:

1. Sekularisme: Agama Dipisahkan dari Kehidupan

Ketika aturan hidup tidak lagi bersandar pada wahyu, maka standar benar-salah ditentukan oleh selera manusia. Inilah yang terjadi dalam sistem sekuler saat ini. Selama “suka sama suka” dan tidak tertangkap aparat, maka semuanya dianggap sah. Akhirnya, bahkan fantasi inses pun dicari dan dinormalisasi.

2. Negara Abai dalam Menjaga Akhlak

Fungsi negara dalam sistem sekarang hanya sebagai pengatur administratif dan keamanan fisik. Moral, akhlak, dan kehormatan masyarakat dibiarkan rusak oleh industri hiburan, algoritma media sosial, dan konten digital cabul. Tidak ada penyaringan konten berdasarkan halal-haram, hanya ada “etika digital” yang longgar dan tidak berdaya.

3. Pendidikan Tanpa Ruh Aqidah

Anak-anak sejak kecil dijejali dengan sains dan pengetahuan dunia, tapi tidak dibekali akidah Islam dan rasa malu (ḥayā’). Tidak heran jika banyak yang tidak tahu batas aurat dengan saudara kandung, atau menganggap wajar cerita erotis keluarga karena tidak pernah diajari rasa takut kepada Allah.

4. Lingkungan Sosial Tak Terjaga

Fenomena rumah sempit yang dihuni oleh banyak keluarga, ruang tidur tanpa sekat, tontonan tak terbatas, pakaian minim di dalam rumah—semua menjadi lahan subur munculnya penyimpangan. Islam tidak membiarkan semua ini terjadi, tapi sistem hari ini justru membiarkannya.

5. Kemiskinan Struktural

Kemiskinan yang merajalela memaksa banyak keluarga hidup berdesakan dalam satu rumah. Minimnya ruang pribadi, lemahnya kontrol, dan tekanan ekonomi menjadi pemicu timbulnya stres dan pelarian kepada fantasi seksual, termasuk yang menyimpang.

Islam: Solusi Komprehensif dari Akidah, Hukum, hingga Ekonomi

Islam tidak hanya melarang perbuatan keji seperti inses. Islam juga menyediakan sistem pencegahan (preventif) dan penyembuhan (kuratif) yang menyeluruh dan terukur:

Tindakan Preventif: Menutup Semua Jalan Menuju Penyimpangan
  1. Larangan Khalwat dan Ikhtilat
    Islam melarang pria dan wanita yang bukan mahram untuk berduaan atau bergaul bebas, termasuk antara saudara sepupu atau kerabat jauh.

  2. Pisah Tempat Tidur Sejak Usia 10 Tahun

    “Perintahkan anak-anak kalian shalat saat usia 7 tahun, dan pukullah mereka saat usia 10 jika enggan, serta pisahkan tempat tidur mereka.”
    (HR. Abu Dawud)

     Ini adalah langkah perlindungan psikologis dan seksual sejak dini.

  3. Pemisahan Aurat dan Etika Berpakaian di Rumah
    Islam memerintahkan menutup aurat bahkan di dalam rumah. Tidak boleh anak perempuan berpakaian minim di depan ayah atau saudara laki-lakinya, dan sebaliknya. Begitupun seorang ibu tidak boleh berpakaian minim di depan anak laki-lakinya dan sebaliknya.

  4. Penyediaan Rumah Layak oleh Negara
    Negara Islam wajib menjamin tempat tinggal yang layak, terpisah, dan menjaga privasi, bukan menyerahkan semuanya kepada mekanisme pasar. Beda dengan sistem kapitalisme saat ini yang menjadikan hunian sebagai lahan basah bisnis, bahkan yang atas nama subsidi pemerintahan pun sama saja.

  5. Pendidikan Islam Sejak Dini
    Pendidikan Islam tidak sekadar pengetahuan, tapi membangun akhlak, rasa malu, dan kesadaran bahwa Allah Maha Melihat. Anak-anak diajari sejak dini tentang siapa mahram, batas pergaulan, dan pentingnya menjaga kehormatan. Anak didik diajari bahwa setiap perbuatan terikat dengan hukum syara'. Halal haram menjadi standar dalam perbuatan mereka.

  6. Kontrol Ketat terhadap Media dan Konten
    Negara Islam memfilter semua konten publik, termasuk media sosial, film, musik, dan buku. Tidak boleh ada cerita atau gambar yang mengandung unsur inses, seks bebas, atau seksualisasi anak.

  7. Kuratif Ekonomi: Negara Wajib Memenuhi Kebutuhan Rakyat

      Pemenuhan ekonomi bukan urusan pasar atau CSR perusahaan. Dalam Khilafah, negara wajib:

      • Memberikan pekerjaan dan gaji layak bagi setiap kepala keluarga.
      • Menyediakan rumah tinggal layak secara cuma-cuma atau bersubsidi bagi yang tidak mampu.
      • Menjamin kebutuhan dasar (pangan, pendidikan, kesehatan) tanpa biaya atau dengan harga sangat terjangkau.

        Dengan begitu, keluarga tidak perlu berdesakan, anak-anak tidak hidup dalam stres, dan laki-laki tidak tertekan secara psikologis hingga mencari pelarian kepada fantasi cabul.

      Tindakan Kuratif: Mengobati yang Terlanjur Terjadi

      1. Penegakan Hukum Syariah
      • Jika pelaku inses sudah menikah, maka termasuk zina muḥṣanhukuman rajam sampai mati.
      • Jika belum menikah → dicambuk 100 kali dan diasingkan 1 tahun.
      • Jika ada unsur pemaksaan (perkosa anak), maka dihukum atas dasar pemerkosaan (ightiṣāb), dan bisa dijatuhi hukuman mati.

      2. Terapi Psikologis dan Ruhiyah

      Islam mendorong pemulihan korban, terutama anak-anak, melalui:

      • Konseling kejiwaan berbasis syariah.
      • Dukungan keluarga dan masyarakat yang islami.
      • Bimbingan ruhiyah dan pemulihan iman.

      Di Masa Khilafah: Mengapa Kasus Seperti Ini Nyaris Tak Ada?

      Sepanjang sejarah peradaban Islam, kasus seperti inses sangat jarang dan tidak pernah muncul secara terang-terangan. Bukan karena tidak ada manusia yang punya nafsu, tapi karena:

      • Sistem Islam menutup semua celahnya.
      • Negara Islam tidak kompromi dalam menjaga akhlak.
      • Masyarakat Islam terbentuk oleh budaya amar ma’ruf nahi munkar.
      • Sanksi tegas ditegakkan, bukan ditawar.

      Bandingkan dengan hari ini—di mana negara hanya bisa memblokir, menyensor sementara, tapi tidak menyentuh akar masalahnya: sistem rusak yang ditopang oleh sekularisme dan kapitalisme.

      Penutup: Saatnya Kembali ke Sistem Islam Kaffah

      “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...”
      (QS. At-Tahrim: 6)

      Kita tidak cukup hanya marah, jijik, atau mengecam. Saatnya bertanya: kenapa sistem ini gagal menjaga akhlak manusia? Dan sistem seperti apa yang mampu mencegah dan menyembuhkan kerusakan ini?

      Jawabannya hanya satu: Islam sebagai sistem hidup yang diterapkan secara kaffah melalui institusi Khilafah.

      Bukan sekadar shalat dan zakat, tapi Islam yang mengatur media, rumah tangga, pendidikan, hingga ekonomi—semua dijalankan oleh negara yang tunduk pada syariat.

      #StopInses #JagaKeluargaDenganIslam #TerapkanSyariahKaffah #KhilafahPelindungMoral


      Comments