"Mana yang lebih dulu, ayam atau telur?" Pertanyaan ini sekilas terdengar sepele, bahkan sering dijadikan bahan candaan. Tapi di balik kesederhanaannya, tersembunyi sebuah teka-teki logika yang telah membingungkan para filsuf selama ribuan tahun. Ini adalah salah satu bentuk paradoks klasik: pertanyaan yang mengandung kontradiksi atau lingkaran tak berujung ketika dijawab hanya dengan akal manusia.
Paradoks ini menjadi simbol kebuntuan akal ketika mencoba menelusuri hakikat awal segala sesuatu, tanpa landasan yang kokoh. Dan inilah titik di mana filsafat asing kerap terjebak, sementara Islam datang membawa jawaban yang menenangkan.
Paradoks dalam Filsafat Asing: Ketika Akal Berputar dalam Lingkaran
Dalam tradisi filsafat Barat, akal dianggap sebagai alat utama untuk menemukan kebenaran. Pemikiran rasional dijunjung tinggi, bahkan seringkali dijadikan satu-satunya sumber validitas. Namun, justru dari sinilah muncul berbagai paradoks yang menyulitkan.
Contohnya:
"Saya selalu berbohong" – Jika benar, maka ia bohong. Jika bohong, maka ia benar.
"Apakah Tuhan bisa menciptakan batu yang tak bisa Ia angkat?" – Sebuah permainan kata yang menjebak logika.
Pertanyaan-pertanyaan ini menantang logika, tapi tidak menghasilkan ketenangan, apalagi petunjuk hidup. Banyak filsuf akhirnya terjebak dalam lingkaran skeptisisme dan kebingungan. Mereka rajin bertanya, namun semakin jauh dari jawaban yang memberi makna.
Islam: Akal yang Terbimbing, Bukan Dilepaskan
Islam tidak menolak akal. Sebaliknya, Islam memuliakan akal sebagai anugerah dari Allah. Tapi Islam juga menetapkan batasnya. Akal tidak dibiarkan bebas liar, tapi dibimbing oleh wahyu.
"Dan tidaklah Kami menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Dalam Islam, akal digunakan untuk mengenal Allah, memahami ayat-ayat-Nya, dan membedakan yang haq dari yang batil. Namun ketika akal mencapai batasnya, maka wahyu yang mengambil alih. Inilah keseimbangan antara nalar dan iman.
Paradoks Islam: Penuh Hikmah, Bukan Kebingungan
Berbeda dengan filsafat asing yang sering menghasilkan paradoks membingungkan, Islam menyampaikan ajaran yang kadang tampak paradoksal secara logika, namun ternyata sarat makna dan hikmah jika dilihat dengan mata hati.
Beberapa contohnya:
Sedekah tidak mengurangi harta
"Tidaklah harta berkurang karena sedekah." (HR. Muslim)
Secara matematis tampak berkurang, tapi secara spiritual dan keberkahan justru bertambah.Yang merendah justru ditinggikan
"Barangsiapa merendahkan diri karena Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim)Syahid: mati atau hidup?
"Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka hidup di sisi Tuhan mereka, diberi rezeki." (QS. Ali Imran: 169)Musibah adalah kebaikan
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu." (QS. Al-Baqarah: 216)Mengingat kematian membawa keberuntungan
"Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan (kematian)." (HR. Tirmidzi)
Konsep-konsep ini mungkin tampak janggal bagi yang hanya mengandalkan logika rasional. Tapi bagi orang beriman, inilah cahaya petunjuk yang membimbing hidup.
Akhirnya, Islam Menjawab
Kembali ke pertanyaan awal: mana yang lebih dulu, ayam atau telur? Filsafat mungkin terus berputar dalam lingkaran. Tapi Islam menjawab dengan tegas: semuanya berasal dari kehendak Allah.
"Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Az-Zumar: 62)
Islam tidak membiarkan manusia tenggelam dalam pertanyaan tanpa arah. Ia membimbing akal, menenangkan hati, dan menuntun pada kebenaran yang hakiki.
Ketika filsafat terjebak dalam kebingungan logika, Islam datang membawa cahaya wahyu. Maka, kita tak perlu memilih antara ayam dan telur. Cukup katakan: yang pertama adalah kehendak Allah.
.png)
Comments
Post a Comment
Silahkan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan, jika tidak maka admin akan memasukkannya dalam kategori spam.