Antara FOMO, YOLO, dan YONO: Keresahan Zaman Modern dan Solusi Islam yang Menenangkan

Pendahuluan: Tren yang Tak Sekadar Tren

Di tengah derasnya arus media sosial dan tekanan hidup modern, muncul berbagai istilah populer yang menggambarkan cara manusia menghadapi hidup: FOMO (Fear of Missing Out), YOLO (You Only Live Once), dan terbaru, YONO (You Only Need One). Istilah-istilah ini bukan sekadar tren digital, tapi merefleksikan kegelisahan kolektif manusia modern: ketakutan tertinggal, dorongan menikmati hidup secara instan, atau pencarian makna lewat kesederhanaan.

Tapi mengapa masyarakat hari ini bisa terpecah menjadi “tim FOMO”, “tim YOLO”, atau “tim YONO”? Apa yang sesungguhnya terjadi di balik fenomena ini? Artikel ini akan membahas sisi psikologis dan sosial di balik istilah-istilah tersebut, sekaligus menawarkan solusi komprehensif dari ajaran Islam.

1. Dimensi Psikologis dan Sosial: Hampa di Tengah Keramaian

Fenomena FOMO dan YOLO lahir dari realitas psikologis yang penuh tekanan:

  • FOMO adalah rasa takut tertinggal (baik informasi, pengalaman, atau peluang) karena terus-menerus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain di media sosial. Menurut riset oleh Dr. Andrew Przybylski dari University of Oxford (2013), FOMO sangat berkaitan dengan rendahnya kepuasan hidup dan meningkatnya kecemasan.

  • YOLO muncul sebagai pembenaran atas keputusan impulsif dan hedonis—seolah hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dalam batasan dan tanggung jawab. YOLO sering kali mendorong gaya hidup serba instan: foya-foya, traveling tanpa rencana matang, atau keputusan besar tanpa pertimbangan panjang.

  • YONO adalah respon balik dari kejenuhan terhadap FOMO dan YOLO. Ia mengusung semangat minimalisme: cukup satu hal yang bermakna, cukup satu pasangan, cukup satu tujuan. YONO mungkin terdengar lebih dewasa, namun tetap bisa menjadi pelarian jika tidak dibarengi dengan kedalaman spiritual.

2. Akar Masalah: Sistem Kehidupan yang Kosong Makna

Tren-tren ini tidak bisa dilepaskan dari sistem kehidupan sekuler dan kapitalistik yang:

  • Menjauhkan manusia dari tujuan hidup hakiki

  • Menjadikan kesuksesan material dan popularitas sebagai tolak ukur nilai diri

  • Mendorong konsumsi berlebihan lewat media, iklan, dan budaya pop

Kapitalisme membentuk manusia menjadi konsumen abadi: “Kamu belum cukup bahagia sampai kamu punya ini dan itu.” Maka manusia pun terjebak dalam FOMO dan YOLO. YONO pun bisa berakhir sebagai tren baru yang hanya memperhalus keresahan lama jika tidak diarahkan pada fondasi hidup yang kuat.

3. Islam: Solusi Sistemik dan Ruhani

Islam hadir dengan solusi menyeluruh—bukan hanya secara individu, tapi juga dalam tatanan masyarakat. Ajaran Islam tidak menolak kebahagiaan atau kesenangan, tapi mengarahkan agar semuanya berporos pada tauhid dan keridhaan Allah.

a. Tujuan Hidup dalam Islam

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Tujuan utama hidup bukan sekadar menikmati dunia, melainkan beribadah dan menjadi khalifah di bumi. Ini menyembuhkan kecemasan eksistensial yang mendorong FOMO dan YOLO.

b. Ketenangan Hati: Bukan dari Dunia, Tapi dari Allah

“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra'd: 28)

Islam menawarkan zikrullah dan koneksi spiritual sebagai sumber ketenangan, bukan pencapaian sosial.

c. Prinsip Qana'ah dan Zuhud

Dalam Islam ada konsep qana'ah (merasa cukup) dan zuhud (tidak terikat oleh dunia). Ini sejalan dengan semangat YONO—namun lebih kokoh karena bukan sekadar pilihan gaya hidup, tapi dorongan iman.

d. Solusi Sistemik: Peran Negara Islam

Dalam Islam, negara (Khilafah) bukan hanya mengurus urusan duniawi, tapi juga menjaga arah ruhani masyarakat:

  • Menyaring konten budaya dan informasi agar tak memicu FOMO

  • Menjamin kesejahteraan agar rakyat tak hidup dalam tekanan ekonomi yang mendorong YOLO

  • Mendidik rakyat dengan akidah Islam agar punya arah hidup yang jelas dan stabil

4. Penutup: Jalan Tengah Bukan Sekadar Tren

YONO bisa jadi titik awal untuk kembali merenung, tapi Islam adalah jalan pulang yang sejati. Bukan sekadar “kamu hanya butuh satu hal,” tapi lebih dalam: “Kamu hanya butuh Allah.”

“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal.”
(QS. At-Taubah: 129)

Fenomena FOMO, YOLO, dan YONO adalah cermin kegelisahan manusia yang kehilangan arah. Islam datang tidak hanya dengan pencerahan ruhani, tapi juga sistem kehidupan yang menenangkan. Bukan sekadar slogan, tapi jalan hidup sejati.

Referensi:

  1. Przybylski, A. K., et al. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior.

  2. Al-Qur’an: QS. Adz-Dzariyat: 56, Ar-Ra’d: 28, At-Taubah: 129

  3. Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, bab Zuhud

  4. Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, Nizhamul Islam

Comments