Bosnia: Luka Eropa yang Berdarah Islam

 


“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan alasan yang benar.”(QS Al-Isra: 33)

Eropa, 1995: Genosida dalam Balutan Peradaban Modern

Di Eropa Timur yang katanya pusat peradaban, terjadi pembantaian sistematis atas ribuan Muslim hanya karena satu hal: mereka Muslim. Dunia mengenalnya sebagai Genosida Srebrenica, puncak dari penderitaan panjang umat Islam di Bosnia.

Selama perang Bosnia 1992–1995, sekitar 100.000 orang dibunuh, lebih dari 50.000 perempuan diperkosa, dan jutaan mengungsi. Paling tragis adalah pembantaian pada Juli 1995, ketika lebih dari 8.000 laki-laki dan anak laki-laki Muslim dibunuh hanya dalam beberapa hari oleh pasukan Serbia Bosnia di bawah komando Ratko Mladić.

Yang lebih memilukan: tragedi ini terjadi di bawah pengawasan PBB. Pasukan penjaga perdamaian Belanda saat itu justru membiarkan warga Muslim Bosnia diserahkan ke tangan pembantai.

Mengapa Mereka Dibantai?

Karena mereka adalah Muslim.
Karena mereka menjalankan Islam dalam budaya, nama, dan identitas.
Karena Islam adalah sesuatu yang ingin dihapuskan dari wilayah itu.

Dan ini menunjukkan bahwa Islamofobia bukanlah produk pasca-9/11, tapi telah mengakar lama dalam sejarah Eropa, sejak Perang Salib hingga penjajahan modern.

Pandangan Islam terhadap Tragedi Bosnia

Islam memandang setiap nyawa sebagai amanah suci dari Allah. Dalam setiap konflik, Islam mengajarkan prinsip keadilan, perlindungan terhadap non-kombatan, dan larangan keras atas pembantaian sipil.

1. Darah Muslim Adalah Darah yang Harus Dijaga

“Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim tanpa hak.”(HR An-Nasa’i)

Pembantaian Srebrenica adalah dosa kolektif dunia modern. Sementara Islam menempatkan nyawa satu Muslim setara dengan runtuhnya seluruh dunia.

2. Umat Islam Tidak Boleh Diam terhadap Penindasan

“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangan...”(HR Muslim)

Diamnya sebagian umat Islam ketika saudaranya dibantai adalah bukti matinya ruh ukhuwah. Islam mengajarkan bahwa pembelaan terhadap Muslim bukan hanya kewajiban moral, tapi tanda keimanan.

3. Islam Membangun Kekuatan untuk Melindungi Kaum Lemah

Islam bukan agama pasif. Ketika umatnya dibantai, maka Islam memerintahkan untuk membangun kekuatan politik, militer, dan peradaban yang dapat melindungi kaum lemah dan menghentikan penindasan.

Pelajaran dari Bosnia untuk Umat Islam Hari Ini

Bosnia menjadi cermin:

  • Betapa dunia yang mengaku “beradab” bisa berubah menjadi bengis.
  • Betapa umat Islam tidak punya pelindung global setelah Khilafah runtuh.
  • Betapa pentingnya umat Islam bersatu secara politik dan militer untuk menjaga eksistensi mereka di tengah dunia yang bermusuhan.

1. Bangun Kesadaran Sejarah

Kita tidak boleh lupa tragedi Bosnia. Sejarah itu bukan masa lalu—ia adalah peringatan. Lupa pada sejarah adalah jalan cepat menuju pengulangan luka.

2. Pelihara Ukhuwah Islamiyah Internasional

Muslim Bosnia tetaplah saudara kita, walaupun beda bahasa, budaya, dan warna kulit. Islam menyatukan kita dalam satu tubuh. Jangan biarkan nasionalisme mematikan ruh persatuan umat.

3. Dukung Tegaknya Kekuatan Umat

Selama umat Islam hanya menjadi objek politik dunia, tragedi seperti Bosnia akan terus terulang. Islam bukan hanya agama ibadah, tapi juga agama peradaban dan kekuasaan.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”(QS Ar-Ra’d: 11)

Bosnia Adalah Seruan untuk Bangkit

Bosnia adalah luka yang masih menganga. Tapi juga panggilan untuk bangkit. Bangkit dari tidur panjang. Bangkit dari kejumudan politik. Bangkit dari keterpecahan antar bangsa Muslim.

Islam adalah agama rahmat, namun juga agama keberanian dan keadilan. Saat umat ini kembali pada Islam secara kaffah, maka dunia akan melihat kembali perlindungan sejati bagi semua umat manusia, seperti masa ketika Islam hadir sebagai perisai dunia dari kezaliman.

Penutup: Bosnia Tidak Boleh Terulang

Hari ini Bosnia mungkin tenang, tapi lukanya belum sembuh. Dunia mungkin melupakan, tapi umat Islam harus terus mengingat.

Agar ketika tragedi berikutnya mengintai umat ini—di Gaza, Rohingya, Uighur, atau manapun—kita tidak lagi hanya jadi penonton. Tapi menjadi pelindung.

Comments