Fenomena Fast Beauty: Bikin Iri atau Ngeri?

 


"Glow up", "skin goals", "glass skin", atau "V-line face" kini menjadi kosa kata harian banyak remaja putri, khususnya di dunia maya. Fenomena ini tak lagi sebatas tren, melainkan sudah menjadi gaya hidup. Di tengah gempuran media sosial yang menyuguhkan wajah-wajah sempurna hasil filter maupun tindakan medis, muncul istilah Fast Beauty—tren kecantikan instan yang menjanjikan hasil cepat, praktis, dan sempurna. Tapi, apakah benar menjanjikan? Atau justru menyimpan kegelisahan?

Fakta Sosial Fast Beauty

  1. Maraknya Klinik dan Produk Kecantikan
    Klinik kecantikan menjamur hingga ke kota-kota kecil, menjanjikan perawatan instan seperti filler, botox, tanam benang, hingga operasi plastik. Produk skincare dan makeup hadir dalam ratusan brand, bahkan dengan harga terjangkau, sehingga mendorong konsumen untuk membeli tanpa henti.

  2. Selebgram Operasi Plastik Demi 'Self Love'
    Beberapa influencer terang-terangan mengaku melakukan operasi plastik demi merasa lebih percaya diri. Mereka mempromosikan transformasi wajah sebagai bentuk "penerimaan diri".

  3. Kejadian Ekstrem: Anak Mengancam Ibu karena Skincare
    Dalam kasus viral, seorang anak perempuan mengancam akan membunuh ibunya karena tak diberi uang untuk membeli skincare. Ini menandai bahwa fast beauty tak lagi soal tren, tapi sudah menjadi kebutuhan emosional yang mengakar.

Mengapa Fast Beauty Terjadi?

  1. Budaya FOMO dan Standar Kecantikan yang Tak Masuk Akal
    Rasa takut tertinggal (Fear of Missing Out/FOMO) dengan tren kecantikan di medsos membuat remaja merasa harus selalu 'up to date' dengan penampilan. Standar kecantikan global makin sempit: kulit putih, glowing, hidung mancung, tubuh ramping—semuanya dipaksakan untuk dicapai.

  2. Gaya Hidup Konsumtif: Cantik Jadi Kebutuhan Pokok
    Dulu, skincare adalah kebutuhan sekunder. Kini, remaja bisa menganggap toner, serum, sunscreen sebagai kebutuhan pokok, bahkan lebih penting dari makanan bergizi. Gaya hidup kapitalistik mendorong konsumsi tanpa batas demi "kebahagiaan semu".

  3. Media Sosial: Filter Cantik, Hati Gelisah
    Filter di Instagram dan TikTok membuat wajah tampak sempurna dalam sekejap. Namun saat bercermin tanpa filter, banyak remaja justru merasa insecure. Mereka merasa tidak cukup cantik, tidak cukup glowing, tidak cukup layak dilihat.

  4. Negara Sekuler Tak Peduli Dampak Moral
    Dalam sistem sekuler, negara tidak membatasi promosi kecantikan berlebihan. Industri kecantikan jadi ladang profit yang sah, meski membuat generasi muda kehilangan kepercayaan diri dan spiritualitas.

Islam Menjawab: Kecantikan dalam Pandangan Ilahi

  1. Penciptaan Allah Sudah Sempurna

    "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (QS. At-Tiin: 4)

    Islam mengajarkan bahwa setiap manusia sudah diciptakan sebaik-baiknya. Warna kulit, bentuk wajah, postur tubuh adalah qadha dari Allah yang wajib disyukuri, bukan diubah.

  2. Mulia Bukan Karena Fisik, Tapi Takwa

    "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)

    Kecantikan sejati dalam Islam adalah kecantikan iman dan akhlak. Wajah boleh cantik, tapi hati harus lebih cantik.

  3. Larangan Mengubah Ciptaan Allah

    "Dan sungguh akan aku sesatkan mereka, dan akan aku bangkitkan angan-angan kosong pada mereka, dan menyuruh mereka mengubah ciptaan Allah." (QS. An-Nisa: 119)

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    "Allah melaknat wanita yang membuat tato dan yang meminta dibuatkan tato, wanita yang mencukur alis, dan yang merenggangkan gigi untuk kecantikan serta mengubah ciptaan Allah." (HR. Bukhari-Muslim)

    Islam melarang segala bentuk perubahan tubuh untuk alasan kecantikan semata, kecuali untuk pengobatan atau menghilangkan cacat yang menyakitkan.

  4. Boleh Merawat Diri, Asal Tidak Tabarruj

    "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah dahulu." (QS. Al-Ahzab: 33)

    Islam membolehkan perempuan merawat diri agar rapi, bersih, dan cantik di hadapan suami. Namun, tidak boleh memamerkan aurat atau mempercantik diri demi pujian manusia.

Solusi Islam atas Krisis Identitas Fast Beauty

Penguatan Identitas Muslimah
Edukasi keimanan sejak dini bahwa cantik bukan segalanya. Remaja harus tahu bahwa Allah melihat hati dan amalnya, bukan bentuk wajah.

Kontrol Sosial dan Negara Berdasarkan Aqidah
Negara harus melindungi generasi dari racun kapitalisme. Negara Islam (Khilafah) punya tanggung jawab:

  • Mendidik remaja dalam sistem pendidikan berbasis akidah.

  • Mengawasi konten media dan industri kecantikan agar tidak merusak nilai Islam.

  • Menciptakan iklim sosial yang mengedepankan takwa, bukan fisik.

Fokus pada Bekal Kehidupan Abadi
Remaja harus diajak merenung: hidup ini sementara. Fokus pada kecantikan fisik akan habis oleh usia, tapi bekal amal dan iman akan kekal di akhirat.

Penutup

Fast beauty menjanjikan kebahagiaan instan. Tapi yang terjadi adalah krisis identitas, gangguan mental, bahkan kekerasan dalam rumah tangga. Islam hadir sebagai solusi paripurna—bukan hanya menjaga kecantikan lahir, tapi juga menjaga martabat, hati, dan arah hidup seorang muslimah.

Jadi, saat dunia berlomba tampil glowing di luar, mari kita mulai glowing dari dalam—dengan iman, ilmu, dan takwa.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Comments