Genosida Suku Indian: Luka Lama yang Tak Terobati dan Sikap Islam Terhadap Penindasan Bangsa

 “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.”(QS Hud: 113)

Luka Berdarah di Tanah Amerika

Sebelum dunia mengenal "Amerika Serikat" sebagai negara adidaya, tanah itu telah dihuni oleh lebih dari 500 suku bangsa asli: suku Indian atau lebih tepatnya Native Americans. Mereka hidup dalam komunitas yang menghargai alam, spiritualitas, dan nilai-nilai kesukuan. Namun, sejak kedatangan bangsa Eropa di abad ke-15, sejarah mereka berubah menjadi lembaran kelam berlumur darah.

Dengan dalih "penjelajahan" dan "peradaban", penjajah Eropa – khususnya dari Inggris, Spanyol, dan Prancis – merebut tanah mereka secara sistematis. Genosida terhadap suku Indian terjadi dalam berbagai bentuk: pembantaian massal, pengusiran paksa, penyebaran penyakit, perbudakan, hingga pemusnahan budaya dan bahasa.

Salah satu tragedi paling terkenal adalah Trail of Tears (Jalur Air Mata), ketika lebih dari 100.000 orang Indian dipaksa berjalan kaki ribuan kilometer ke barat, dan puluhan ribu meninggal di tengah perjalanan karena kelaparan, penyakit, dan kelelahan.

Ini bukan hanya penjajahan. Ini adalah pemusnahan suatu bangsa.

Islam dan Sikap Terhadap Genosida

Islam sebagai agama rahmat tidak pernah membiarkan kezaliman berlalu tanpa kecaman. Dalam Al-Qur’an dan sirah Nabi, terdapat prinsip-prinsip tegas dalam menyikapi kezaliman terhadap manusia, apalagi sampai pada level penghapusan satu kelompok bangsa (genosida).

1. Islam Melarang Penindasan, Siapapun Korbannya

“Barangsiapa membunuh seseorang bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia.”(QS Al-Ma'idah: 32)

Ayat ini menjadi penegasan bahwa membunuh satu jiwa tak berdosa sama dengan menghancurkan umat manusia. Apalagi genosida yang membunuh seluruh generasi.

Dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad ﷺ pun pernah melindungi orang non-Muslim yang hidup damai dengan umat Islam, bahkan menghukum keras siapa pun yang mencelakai mereka. Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa membunuh seseorang yang berada dalam perlindungan (dzimmi), maka dia tidak akan mencium bau surga.”
(HR Bukhari)

Bagaimana mungkin Islam merestui perbuatan seperti yang dialami suku Indian?

2. Islam Memerintahkan Umatnya Melawan Kezaliman

Islam tidak mengajarkan netral dalam urusan penindasan. Allah berfirman:

“Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang tertindas, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak…”(QS An-Nisa: 75)

Ayat ini menjadi panggilan abadi bagi kaum Muslimin untuk selalu berpihak pada yang tertindas, tak peduli agama, warna kulit, atau asal bangsanya.

Dalam konteks ini, Muslim yang hidup di zaman modern sepatutnya tidak diam terhadap kejahatan kemanusiaan, termasuk terhadap sejarah kelam suku Indian, atau bahkan tragedi kontemporer seperti yang terjadi di Gaza, Rohingya, dan Uighur.

3. Islam Menjunjung Hak Bangsa dan Identitas Budaya

Penjajahan terhadap suku Indian bukan hanya soal tanah, tapi juga penghapusan budaya dan identitas. Sekolah-sekolah pemaksaan (boarding schools) memisahkan anak-anak dari keluarganya, melarang mereka berbicara bahasa leluhur, bahkan memaksakan keyakinan Kristen.

Islam menghormati perbedaan budaya dan bahasa sebagai tanda kekuasaan Allah:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah penciptaan langit dan bumi serta perbedaan bahasamu dan warna kulitmu…”(QS Ar-Rum: 22)

Hikmah dan Tanggung Jawab Umat Islam Hari Ini

Sebagai umat Islam, kita tidak sekadar membaca sejarah untuk mengutuk masa lalu. Kita mesti belajar, mengambil ibrah, dan berdiri di pihak kebenaran. Hari ini, dunia menyaksikan genosida lain terjadi di berbagai tempat. Kita tidak boleh hanya menangis, lalu diam. Kita harus:

  • Mendoakan korban kezaliman, siapa pun mereka.
  • Menyuarakan keadilan, di media, tulisan, maupun aksi nyata.
  • Mendidik generasi muda, agar memahami hakikat kezaliman dan nilai-nilai keadilan Islam.

Islam adalah Rahmat bagi Semua, Bukan Dominasi atas Semua

Jika dunia barat membangun kekuatan di atas reruntuhan suku Indian, Islam mengajarkan peradaban berbasis keadilan dan kasih sayang, bukan kerakusan dan pembantaian. Rasulullah ﷺ menaklukkan hati manusia, bukan membakar desa mereka. Ia menebar dakwah, bukan menghancurkan budaya.

Maka, kita umat Islam hari ini, harus menjadi pembawa cahaya, bukan sekadar komentator sejarah.

“Dan Allah tidak menyukai kezaliman sedikit pun.”(QS An-Nisa: 40)

Comments