Heboh Makam Nabi di Tembok Raksasa China: Hoaks yang Menyingkap Jejak Islam di Negeri Tirai Bambu

 


Beberapa waktu lalu, jagat media sosial kembali dihebohkan dengan kabar yang sensasional: “Tembok Raksasa China Roboh, Ditemukan Makam Nabi!”. Seperti biasa, narasi bombastis ini cepat menyebar, memancing rasa penasaran netizen dan membuka ruang spekulasi yang liar. Sayangnya, kabar tersebut tidak berdasar dan termasuk hoaks.

Namun di balik berita palsu itu, tersingkap sebuah kenyataan yang lebih menarik dan penting untuk diketahui: Islam memang memiliki sejarah panjang dan mendalam di China, jauh sebelum informasi palsu seperti itu muncul. Bahkan, jejak Islam di negeri komunis terbesar ini telah ada sejak masa para sahabat Nabi.

Klarifikasi: Tidak Ada Makam Nabi di Balik Tembok Raksasa

Tembok Raksasa China, yang dibangun sejak abad ke-7 SM dan diperluas selama ribuan tahun hingga Dinasti Ming, memang memiliki banyak bagian yang sudah rusak. Namun, tidak pernah ada laporan arkeologis atau akademis yang menyebutkan adanya penemuan makam nabi di sana. Apalagi, para nabi dalam tradisi Islam diketahui memiliki makam yang sudah tercatat jelas, seperti Nabi Muhammad di Madinah, Nabi Ibrahim di Hebron, dan lain sebagainya.

Kabar ini jelas merupakan hoaks clickbait yang menyasar rasa penasaran umat Islam sekaligus mempermainkan emosi religius mereka. Sangat disayangkan, namun inilah pentingnya literasi digital di era post-truth.

Namun di balik kabar palsu ini, ada satu kebenaran penting: Islam memang telah berkembang dan berakar dalam kehidupan masyarakat China selama lebih dari 1.300 tahun.

Jejak Islam Sejak Abad ke-7: Dakwah Damai Melintasi Jalur Sutra

Masuknya Islam ke China tercatat sejak tahun 651 M, hanya sekitar dua dekade setelah wafatnya Rasulullah saw. Pada masa Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, dikirimlah utusan dakwah ke Kaisar Tang, termasuk di antaranya Sa’ad bin Abi Waqqash, sahabat Rasulullah yang juga dikenal sebagai panglima dalam berbagai penaklukan besar.

Alih-alih melalui peperangan atau paksaan, Islam masuk ke China melalui diplomasi, perdagangan, dan akhlak para pedagang Muslim. Jalur Sutra—baik darat maupun laut—menjadi jalur dakwah yang penuh berkah. Kota-kota seperti Guangzhou, Xi’an (Chang’an), dan Quanzhou menjadi pusat awal pertumbuhan Islam di tanah Tiongkok.

Komunitas Muslim di China: Hui dan Uighur

Dari jejak sejarah tersebut, lahirlah dua komunitas Muslim besar di China:

  1. Hui (回族) – Muslim Tionghoa yang menyatu secara budaya dan bahasa dengan masyarakat Han, tetapi mempertahankan identitas Islam. Mereka tersebar di banyak provinsi, terutama Ningxia, dan dikenal karena kontribusinya dalam bidang perdagangan, militer, dan ilmu pengetahuan.

  2. Uighur (维吾尔族) – Muslim Turkik yang tinggal di Xinjiang, bagian barat laut China. Mereka memiliki bahasa, budaya, dan tradisi tersendiri, serta menjadi simbol kekuatan identitas Islam di tengah tekanan rezim komunis saat ini.

Islam Terus Bertahan Meski Ditekan

Di masa Dinasti Tang dan Yuan, umat Islam memiliki posisi yang cukup baik, bahkan ada Muslim yang menjadi pejabat tinggi dan ilmuwan terkemuka. Namun, sejak berdirinya Republik Rakyat China, terlebih lagi di bawah rezim Partai Komunis, kebebasan beragama mengalami banyak tekanan. Masjid-masjid diawasi, simbol-simbol Islam dilarang dipublikasikan, hingga terjadi represi terhadap Muslim Uighur yang mengejutkan dunia.

Meski demikian, Islam tetap bertahan dan tumbuh, menunjukkan ketahanan akidah yang luar biasa. Pendidikan Islam dilakukan diam-diam, Al-Qur’an terus diajarkan secara sembunyi-sembunyi, dan komunitas Muslim tetap menjaga ibadah dan tradisi mereka meski dalam tekanan sistemik.

Mengapa Islam Diterima di China?

Jawabannya sederhana namun mendalam: Islam adalah fitrah manusia.

Islam datang dengan ajaran yang selaras dengan akal sehat dan hati nurani. Ia tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga menata kehidupan sosial, ekonomi, dan politik dengan keadilan. Inilah yang membuatnya mudah diterima, bahkan di negeri yang sangat berbeda secara budaya dan ideologi seperti China.

Allah berfirman:

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu."
(QS. Ar-Rum: 30)

Penutup: Di Balik Hoaks, Ada Kebenaran yang Lebih Layak Disebarkan

Hoaks tentang makam nabi di balik Tembok Raksasa China hanyalah sensasi kosong. Namun kenyataan bahwa Islam telah hadir dan bertahan di China selama 13 abad adalah fakta sejarah yang agung dan patut disebarluaskan.

Bukan dengan bombastis dan berita palsu, tetapi dengan ilmu, dakwah, dan keteladanan akhlak, sebagaimana para sahabat Nabi dulu menaklukkan hati bangsa-bangsa besar dunia—termasuk China—tanpa pedang, tapi dengan cahaya Islam.

Wallahu a’lam bishshawab.

Comments