Tak lama lagi, gema takbir akan mengudara. Hari besar penuh makna akan kembali menyapa: Iduladha. Sebuah momen yang tak hanya identik dengan penyembelihan hewan qurban, tapi lebih dari itu, ia adalah simbol ketaatan dan pengorbanan hamba kepada Rabb-nya.
Allah Swt. berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang banyak. Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah).” (QS. Al-Kautsar: 1–3)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa ibadah dan qurban adalah bentuk syukur atas limpahan nikmat, serta bukti nyata ketundukan kepada perintah Allah Swt. Inilah yang dicontohkan oleh sosok agung, Nabi Ibrahim as., dan anaknya yang saleh, Nabi Ismail as.
Ketundukan Ibrahim dan Ismail: Kisah Agung Penuh Pelajaran
Betapa berat ujian yang Allah hadirkan pada Ibrahim. Setelah sekian lama memohon keturunan, ia justru diperintah menyembelih anak tercintanya. Namun lihatlah bagaimana ia merespons. Begitu pula Ismail yang masih belia, menerima perintah itu tanpa ragu:
"Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Keduanya taat total. Karena mereka paham, hidup ini bukan soal keinginan pribadi, tapi tentang kepatuhan kepada aturan Allah. Ketakwaan mereka berdiri di atas akidah yang kokoh, akidah yang melahirkan sikap fikriyah — pemikiran yang selalu terikat syariat.
Ketika Umat Gagal Taat, Kerusakan Merajalela
Sayangnya, kondisi umat Islam hari ini sangat kontras. Di tengah perayaan Iduladha yang seharusnya menjadi momentum memperbarui ketakwaan, kita justru disuguhkan berbagai realitas kelam.
Data dari KemenPPPA mencatat, dalam rentang Januari hingga April 2025 saja, terdapat 5.949 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Sebuah angka yang diyakini hanya puncak dari gunung es — selebihnya tak terlaporkan.
Tak hanya itu, kasus korupsi terus mencoreng wajah bangsa. Mantan Menkopolhukam Mahfud MD bahkan menyebut kondisi korupsi di negeri ini sudah sangat jorok. Teranyar, skandal di lembaga peradilan justru melibatkan para hakim yang memanipulasi hukum demi melindungi mafia ekspor.
Dan ini belum termasuk kasus pembunuhan, pencurian, perampokan, dan bentuk kriminalitas lainnya. Dunia seakan gelap, karena manusia hidup jauh dari cahaya wahyu.
Allah Swt. telah mengingatkan:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah menampakkan kepada mereka sebagian akibat dari perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Ar-Rum: 41)
Akar Masalahnya: Lemahnya Akidah dan Ketundukan pada Sistem Kufur
Mengapa semua ini terjadi?
Pertama, karena lemahnya akidah umat. Keimanan yang seharusnya jadi dasar berpikir dan bertindak justru diabaikan. Akidah tidak lagi menjadi tolok ukur benar-salah, baik-buruk.
Kedua, karena umat menjadikan peradaban Barat — sekular, liberal, dan kapitalistik — sebagai standar kemajuan. Padahal sistem ini lahir dari pemisahan agama dari kehidupan. Hasilnya adalah tatanan sosial yang rapuh dan penuh ketidakadilan.
Ketiga, umat Islam melupakan sejarahnya. Kisah para nabi dan kejayaan peradaban Islam hanya menjadi cerita nostalgia, bukan inspirasi perubahan. Bahkan, momen sebesar Iduladha pun sekadar jadi rutinitas tahunan tanpa makna transformatif.
Kebangkitan Umat Dimulai dari Perubahan Cara Berpikir
Lalu bagaimana umat bisa keluar dari jurang kerusakan ini?
Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa kebangkitan hakiki terjadi ketika taraf berpikir umat meningkat. Yakni, ketika manusia menggunakan akalnya secara benar, berpijak pada akidah Islam, dalam memenuhi seluruh aspek kehidupan.
Inilah jalan yang dulu ditempuh Rasulullah saw. Beliau tak langsung mengubah sistem politik atau ekonomi, tapi memulai dari membina pemikiran umat. Beliau membentuk generasi sahabat yang menjadikan akidah Islam sebagai pusat cara pandang mereka terhadap hidup, masalah, dan solusi.
Tahapan perjuangan Nabi terbagi dalam tiga marhalah:
- Tasqif wa Takwin — pembinaan individu dan kader dakwah.
- Tafa’ul Ma’al Ummah — interaksi dakwah di tengah masyarakat.
- Tathbiqul Ahkam — penerapan syariat Islam secara total dalam bingkai negara.
Inilah jalan kebangkitan yang shahih. Jalan yang akan mempersatukan umat dalam satu visi hidup: hidup tunduk dan patuh kepada Allah secara kaffah.
Totalitas Taat Butuh Sistem Islam
Pesan terbesar dari Iduladha adalah: taat total kepada Allah. Dan totalitas ini tak mungkin terwujud secara individu saja. Ia harus dijalankan dalam sebuah tatanan sosial, politik, dan negara — sebuah sistem yang mewajibkan ketaatan secara kolektif.
Maka, Iduladha seharusnya mengingatkan kita bahwa umat Islam membutuhkan sistem Islam kaffah, yang hanya bisa diwujudkan dalam naungan Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah. Sebagaimana janji Allah:
"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi…"
(QS. An-Nur: 55)
Mari jadikan Iduladha bukan sekadar momen berqurban, tapi momen memperbaharui komitmen kita untuk taat total kepada Allah. Bukan hanya secara pribadi, tapi dalam setiap aspek kehidupan, dengan memperjuangkan tegaknya Islam kaffah.
Wallahu a’lam bish-shawab.
#Iduladha #KebangkitanUmat #IslamKaffah #NabiIbrahim #Khilafah
.png)
Comments
Post a Comment
Silahkan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan, jika tidak maka admin akan memasukkannya dalam kategori spam.