“Sejarah adalah guru kehidupan.” Namun, apa jadinya jika sang guru justru kita pilih dari orang-orang yang memusuhi kita?
Dalam memahami sejarah Islam, umat Muslim dituntut untuk bersikap kritis, selektif, dan adil. Sejarah bukan sekadar kumpulan kisah tokoh besar atau cerita dalam kitab sastra. Ia adalah cermin peradaban yang kompleks, mencakup berbagai sisi: politik, sosial, budaya, ilmu, dan spiritualitas. Sayangnya, tidak sedikit di antara kita yang terjebak pada pemahaman sempit terhadap sejarah Islam karena hanya melihatnya dari satu sisi, atau bahkan dari sumber yang tidak dapat dipercaya.
Waspadai Sumber Sejarah dari Musuh Islam
Salah satu kekeliruan besar adalah mengambil narasi sejarah dari musuh-musuh Islam, terutama mereka yang jelas-jelas memusuhi syariat ini. Mereka tidak hanya menyajikan fakta secara selektif, tetapi juga menyusupkan bias dan kebencian dalam tulisannya, agar umat Islam kehilangan kepercayaan terhadap sejarahnya sendiri.
Allah telah mengingatkan kita:
"Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan itu."
(QS. Al-Hujurat: 6)
Begitu pula bila kita mengambil sejarah dari penulis Muslim, tetap wajib disaring. Karena tidak sedikit dari mereka yang menulis berdasarkan kepentingan pribadi, fanatisme golongan, atau pesanan penguasa—sehingga terjebak menjadi pencela atau pemuja.
Kesalahan Fatal: Menyederhanakan Sejarah
Kesalahan lain yang tak kalah penting adalah menggeneralisasi sejarah hanya dari satu tokoh atau sisi. Ini adalah cara pandang sempit yang bisa mengaburkan gambaran utuh peradaban Islam.
Peristiwa Karbala dan kekejaman atas penduduk Madinah tidak dapat dibantah. Namun, menjadikan Yazid sebagai gambaran seluruh pemerintahan Bani Umayyah jelas keliru. Karena:
- Di era Bani Umayyah, Islam menyebar hingga ke Andalusia dan Asia Tengah.
- Muncul sistem pemerintahan dan administrasi negara yang kokoh.
- Lahir khalifah mulia seperti Umar bin Abdul Aziz, yang kepemimpinannya dikenang sebagai teladan keadilan dan kezuhudan.
Benar ada khalifah yang lalai, hidup mewah, dan terlibat dalam intrik politik. Namun:
- Bani Abbasiyah juga dikenal sebagai masa keemasan ilmu pengetahuan Islam.
- Pusat ilmu seperti Bayt al-Hikmah berdiri megah, menerjemahkan ribuan karya.
- Tokoh-tokoh seperti Al-Khawarizmi, Al-Farabi, dan Ibnu Sina mewarnai dunia dengan karya-karyanya.
Kitab Al-Aghani karya Abu Al-Faraj Al-Isfahani memang memuat cerita para biduan, pemabuk, dan penyair istana. Tapi kitab ini:
- Hanya merekam kehidupan elit istana, bukan masyarakat secara umum.
- Tidak mencerminkan aktivitas umat Islam yang sesungguhnya, yang masih penuh dengan amal saleh dan ilmu.
Membaca buku-buku tasawuf bisa memberi kesan bahwa masyarakat hidup dalam zuhud dan menjauh dari dunia. Padahal:
- Masyarakat tetap hidup aktif dalam perdagangan, pertanian, politik, jihad, dan dakwah.
- Tasawuf hanyalah salah satu sisi, bukan wajah keseluruhan umat Islam kala itu.
Perlu dipahami bahwa sejarah Islam klasik banyak berisi tentang para penguasa dan pejabat, bukan catatan masyarakat secara umum. Itu pun banyak yang ditulis oleh orang-orang yang tak objektif. Maka sangat berbahaya jika kita menyimpulkan sejarah umat Islam hanya dari fragmen-fragmen kecil, apalagi yang penuh bias.
Dalam Islam, berlaku prinsip:
"Janganlah kebencian terhadap suatu kaum membuat kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena keadilan itu lebih dekat kepada takwa."
(QS. Al-Ma’idah: 8)
Sejarah Islam harus dipahami dengan keadilan, keluasan, dan kecerdasan:
- Gunakan sumber terpercaya dan berimbang,
- Lihat sejarah secara komprehensif, dari berbagai sisi,
- Hindari sikap menghakimi hanya dari satu peristiwa atau tokoh kontroversial.
Dengan begitu, kita akan memperoleh gambaran utuh bahwa Islam bukan hanya sistem yang penuh dengan kemenangan politik, tapi juga:
- Kekuatan ilmu dan peradaban,
- Keadilan sosial dan ekonomi,
- Spiritualitas dan pengabdian kepada Allah.
Jangan sampai kita menjadi generasi yang terputus dari kebanggaan akan peradaban Islam karena membaca sejarah dari tangan-tangan yang memusuhinya, atau dari narasi-narasi sempit yang tidak adil. Mari telusuri sejarah dengan lensa yang bersih dan niat yang lurus, agar kita tidak hanya belajar, tapi juga meneladani dan membangkitkan kejayaannya kembali.
“Sejarah bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk menjadi bahan bakar kebangkitan umat.”
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
.png)
Comments
Post a Comment
Silahkan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan, jika tidak maka admin akan memasukkannya dalam kategori spam.