Nama Nikola Tesla telah lama dikenal sebagai salah satu ilmuwan paling jenius dalam sejarah. Ia adalah sosok visioner yang menciptakan dasar-dasar teknologi listrik modern, termasuk sistem arus bolak-balik (AC), radio, hingga mimpi besarnya: energi bebas tanpa kabel untuk semua manusia. Namun sejarah memperlihatkan bahwa dunia yang ia tinggali bukanlah dunia yang adil terhadap para ilmuwan idealis sepertinya.
Tesla hidup di tengah sistem kapitalistik yang mengukur nilai sebuah inovasi dari potensi keuntungan, bukan dari maslahat. Ia harus bersaing dengan tokoh seperti Thomas Alva Edison, yang memiliki koneksi bisnis dan dukungan modal besar. Tesla kalah secara ekonomi, dan wafat dalam kesendirian dan kemiskinan di sebuah kamar hotel di New York pada tahun 1943.
Namun, bayangkan sejenak... bagaimana jika Tesla hidup dalam naungan peradaban Islam?
Ilmu Bukan Komoditas, Tapi Ibadah
Dalam Islam, ilmu adalah bagian dari amal shalih. Pencarian dan pengembangan ilmu bukanlah untuk dikomersialisasikan, tapi sebagai bentuk pengabdian kepada Allah dan sarana membawa manfaat bagi umat.
"Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)
Tesla, yang mencurahkan hidupnya untuk riset dan eksperimen, dalam sistem Islam akan dilihat sebagai mujahid ilmu. Ilmunya bukan milik pasar, melainkan modal umat untuk membangun peradaban.
Negara Menanggung Riset dan Kesejahteraan Ilmuwan
Berbeda dengan sistem kapitalisme yang menyerahkan segala sesuatu pada investor dan korporasi, dalam Islam, negara melalui Baitulmal memiliki tanggung jawab membiayai keilmuan yang bermanfaat. Negara Islam akan menyediakan dana, fasilitas, dan jaminan hidup bagi para ilmuwan seperti Tesla — tanpa menuntut keuntungan duniawi.
Tesla tak perlu mengemis pada kapitalis macam J.P. Morgan. Tak perlu melihat proyeknya dihentikan hanya karena “tidak menguntungkan.” Ia akan didorong untuk terus berinovasi demi maslahat umat.
Penemuan Bukan untuk Monopoli, Tapi Milik Umat
Islam memiliki prinsip kepemilikan yang tegas: ada milik individu, milik umum, dan milik negara. Energi termasuk dalam milik umum. Rasulullah Saw. bersabda:
“Manusia berserikat dalam tiga hal: air, api, dan padang rumput.” (HR. Abu Dawud)
Maka, dalam peradaban Islam, teknologi seperti pembangkit listrik, sistem distribusi arus, hingga energi nirkabel, tidak boleh dimonopoli oleh korporasi. Penemuan Tesla akan dikelola negara untuk digunakan oleh seluruh umat secara adil — gratis atau murah, bukan komersial dan eksklusif.
Ilmuwan Tidak Diperbudak Pasar
Dalam sistem kapitalisme, ilmuwan harus tunduk pada logika pasar. Jika penemuan tidak menjual, ia dianggap tak berguna. Bahkan, inovasi yang mengancam bisnis besar bisa ditekan, dibungkam, atau diabaikan.
Sebaliknya, Islam memuliakan ilmu dan ilmuwan. Di masa Khilafah Abbasiyah, para ilmuwan diberi gaji besar, waktu, dan ketenangan untuk meneliti. Hasil riset mereka menjadi warisan emas dunia hingga kini: Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Al-Jazari, dan banyak lainnya.
Tesla akan hidup sebagai tokoh terhormat. Namanya akan diabadikan bukan hanya dalam buku, tapi dalam sejarah umat Islam sebagai ulama teknologi.
Kesimpulan: Tesla adalah Korban Sistem Kapitalistik
Kisah Tesla bukan hanya kisah tragis seorang ilmuwan. Ia adalah potret nyata bagaimana kapitalisme menindas potensi besar yang tidak bisa dijadikan alat bisnis. Sistem ini mencetak pemenang palsu — mereka yang memiliki modal dan koneksi — bukan mereka yang membawa manfaat sejati.
Bayangkan jika Tesla hidup dalam sistem Islam. Ilmunya akan diberdayakan, hidupnya dijamin, dan warisannya akan menjadi cahaya peradaban. Tapi sayang, ia hidup dalam sistem buatan manusia, bukan sistem Allah.
Dan di sinilah pentingnya kita mengupayakan tegaknya peradaban Islam yang memuliakan ilmu, ilmuwan, dan umat.
Wallahu a’lam bish-shawab.
.png)
Comments
Post a Comment
Silahkan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan, jika tidak maka admin akan memasukkannya dalam kategori spam.