Sudah lebih dari dua bulan, Zionis Israel terus melanjutkan genosidanya atas rakyat Gaza dengan metode paling keji dan tidak berperikemanusiaan. Setelah menggempur tanpa ampun wilayah sipil, rumah sakit, masjid, hingga kamp pengungsian, kini mereka menggunakan kelaparan sebagai senjata pembunuh massal. Bantuan makanan dan kebutuhan pokok diblokade masuk. Warga Gaza dipaksa bertahan hidup dalam kondisi mencekam, dengan tubuh yang mengurus, anak-anak yang menangis kelaparan, dan pasien rumah sakit yang dibiarkan tak bernyawa.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan memperingatkan kemungkinan terjadinya Nakba kedua—tragedi pengusiran massal bangsa Palestina tahun 1948 yang kini terulang dalam bentuk yang lebih kejam dan sistematis (Metrotvnews, 18/5/2025). Betapa tidak, kelaparan bukanlah dampak sampingan dari perang, tetapi telah dijadikan alat utama pembunuhan perlahan. Ini bukan sekadar krisis kemanusiaan. Ini adalah genosida.
Zionis Israel berulang kali menunjukkan wajah aslinya: pengecut dan lemah. Tidak mampu berperang secara ksatria, mereka justru menyasar sipil, menghancurkan rumah sakit, dan memblokir suplai makanan. Bahkan setelah Hamas membebaskan sandera AS, janji pembukaan blokade bantuan pun diingkari mentah-mentah (Republika, 17/5/2025). Inilah potret brutal penjajah yang mengklaim diri sebagai negara demokrasi dan menjual narasi "membela diri", padahal sejatinya adalah pelaku pembantaian massal paling bengis di abad ini.
Tragisnya, dalam kondisi semengerikan ini, para pemimpin negeri-negeri muslim justru diam membisu. Mereka cukup puas dengan retorika kecaman, diplomasi basa-basi, atau aksi simbolik pengiriman bantuan, tanpa ada langkah nyata mengusir penjajah dari bumi yang diberkahi itu. Seruan jihad yang berkumandang dari masjid ke masjid, dari jalan-jalan kota hingga platform media sosial, seolah-olah tak mampu menggugah hati para penguasa. Tidak ada pasukan yang dikirim. Tidak ada aliansi militer yang digalang. Tidak ada pengusiran nyata atas penjajah Yahudi.
Padahal, dalam sejarah Islam, umat tak pernah dibiarkan teraniaya dalam waktu lama. Ketika seorang muslimah di Amuriyah dilecehkan, Khalifah al-Mu’tashim Billah segera mengirim pasukan besar-besaran demi membebaskannya. Bandingkan dengan kondisi hari ini—seluruh Gaza berteriak, menangis, dan menjerit, namun tak satu pun pasukan muslim dikirim untuk membela mereka.
Inilah bukti nyata hilangnya institusi pelindung umat: Khilafah Islamiyah. Sebuah institusi politik adidaya yang berfungsi sebagai junnah (perisai) bagi kaum muslimin. Tanpa Khilafah, umat Islam ibarat anak yatim yang tak punya pelindung. Tanpa Khilafah, bumi para nabi dibiarkan porak-poranda oleh kaum kuffar. Dan tanpa Khilafah, kaum muslimin terus menjadi korban dari kebiadaban musuh-musuh Islam.
Kondisi tragis Palestina hari ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi seluruh umat Islam. Bahwa solusi atas genosida ini bukanlah sekadar donasi, diplomasi, atau harapan pada lembaga internasional yang tak punya gigi. Solusi satu-satunya adalah kembalinya sistem Islam kaffah dalam naungan Khilafah. Sebuah sistem yang menjadikan jihad sebagai metode membebaskan tanah kaum muslimin, bukan sekadar slogan kosong.
Perjuangan menegakkan Khilafah bukanlah angan kosong. Telah ada partai Islam ideologis yang secara konsisten memperjuangkan hal ini, yang menyadarkan umat akan pentingnya syariat sebagai sistem hidup, bukan sekadar hukum pribadi. Maka, tugas kita sebagai umat hari ini adalah membangun kesadaran, memperluas dukungan, dan bersatu dalam barisan perjuangan ideologis ini. Karena hanya Khilafah yang mampu menghentikan genosida, mengusir penjajah, dan menebarkan keadilan sejati di seluruh dunia.
.png)
Comments
Post a Comment
Silahkan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan, jika tidak maka admin akan memasukkannya dalam kategori spam.