Perang Dagang AS–China dalam Pandangan Islam: Konflik Antar Dār al-Kufr dan Sikap Sejati Dār al-Islām
Sejak tahun 2018, dunia menyaksikan memanasnya perang dagang antara dua raksasa ekonomi dunia: Amerika Serikat dan China. Perang ini bukan sekadar adu tarif dan teknologi, melainkan cerminan dari rivalitas ideologis, ekonomi, dan geopolitik antara dua kekuatan Dār al-Kufr. Bagaimana Islam memandang konflik ini? Haruskah umat Islam memihak? Dan bagaimana seharusnya Dār al-Islām bersikap?
Memahami Posisi: AS dan China adalah Dār al-Kufr
Dalam fikih siyasah Islam, negara dibagi menjadi dua entitas utama: Dār al-Islām dan Dār al-Kufr. Negara digolongkan sebagai Dār al-Kufr apabila tidak menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam sistem pemerintahannya, termasuk hukum, ekonomi, dan politik luar negerinya.
-
Amerika Serikat jelas merupakan negara kapitalis liberal yang telah lama menjadikan riba, sekularisme, dan hegemoni global sebagai fondasi kebijakannya.
-
China, meski secara ideologis mengusung komunisme, secara praktik telah memadukan kapitalisme pragmatis dalam sistem ekonominya.
Keduanya tidak hanya berada di luar naungan syariat, tetapi juga memiliki rekam jejak panjang dalam menindas umat Islam:
-
AS dengan invasi dan agresinya di Irak, Afghanistan, dan dukungan penuh terhadap penjajahan Zionis di Palestina, tergolong kāfir ḥarbī fi‘lan.
-
China, dengan penindasannya terhadap Muslim Uyghur di Xinjiang, dapat dikategorikan sebagai kāfir ḥarbī ḥukman, dan sebagian ulama menilainya juga sebagai fi‘lan, meski dalam skala regional.
Perang Dagang: Bukan Konflik Haq vs. Batil
Perang dagang AS–China adalah perseteruan antar negara kafir yang sama-sama memperjuangkan dominasi ekonomi dan politik global. Islam tidak melihat konflik ini sebagai pertarungan antara kebenaran dan kebatilan, melainkan persaingan batil dengan batil.
Keduanya berlomba dalam:
-
Penguasaan teknologi dan produksi strategis,
-
Dominasi jalur perdagangan dunia (seperti Belt and Road vs Indo-Pacific Strategy),
-
Pengaruh mata uang global (dolar vs yuan digital).
Islam tidak berdiri di antara keduanya untuk berpihak, melainkan menilai bagaimana konflik ini berdampak pada umat Islam dan bagaimana menjaga independensi Dār al-Islām jika ia tegak.
Sikap Dār al-Islām jika Tegak: Netral Aktif dan Mandiri
Jika umat Islam memiliki negara yang menerapkan syariat secara kaffah (Khilafah), maka negara tersebut akan bersikap netral aktif, bukan netral pasif:
1. Tidak memihak blok kafir manapun
Islam melarang umat tunduk atau menjadi alat kepentingan negara kafir, apalagi menjadi bagian dari poros kapitalis-komunis yang sama-sama batil.
2. Memetakan ancaman dan peluang
Negara Islam akan menganalisis konflik antar Dār al-Kufr untuk menghindari ancaman penjajahan ekonomi dan politik, serta mengambil posisi strategis demi kepentingan dakwah dan perlindungan umat.
3. Menolak sistem perdagangan kapitalistik
Islam memiliki sistem ekonomi sendiri yang bebas dari riba, monopoli, dan dominasi asing, sehingga tidak akan tunduk pada WTO, IMF, atau skema pasar bebas ala kapitalisme.
4. Membatasi hubungan luar negeri dengan prinsip syar’i
Hubungan dengan negara kafir tidak didasarkan pada diplomasi pragmatis, tetapi sesuai hukum syariah:
-
Dār al-Kufr yang fi‘lan memerangi Islam, maka tidak boleh ada hubungan diplomatik maupun ekonomi.
-
Dār al-Kufr yang tidak memerangi Islam secara langsung, dapat dijalin hubungan terbatas dan strategis, selama tidak merugikan umat.
Realita Negeri Muslim Hari Ini: Terkepung dan Terjajah
Sayangnya, negeri-negeri muslim saat ini belum menjadi Dār al-Islām. Mereka lebih sering:
-
Menjadi pion kepentingan AS atau China, tergantung siapa yang memberikan utang dan investasi.
-
Menjadi pasar konsumtif, tanpa kedaulatan ekonomi yang sejati.
-
Menjadi medan proxy war ekonomi, tanpa keberanian mengambil sikap independen.
Padahal dalam sistem Islam, negara adalah penjaga umat, bukan pelayan korporasi asing atau penjual aset publik.
Kesimpulan: Saatnya Umat Bangkit dan Mengambil Posisi
Perang dagang AS–China adalah pertarungan antar pengusung sistem batil yang sama-sama menindas umat manusia. Islam tidak berpihak pada keduanya, melainkan mengajak umat untuk:
-
Mewujudkan Dār al-Islām yang sejati, agar mampu mengambil sikap geopolitik mandiri berdasarkan wahyu.
-
Memutus ketergantungan ekonomi dari negara-negara kufur.
-
Menolak penjajahan dalam segala bentuknya, baik melalui senjata, utang, maupun pasar.
Inilah pandangan Islam yang visioner dan independen. Sebuah pandangan yang hanya bisa diwujudkan dengan tegaknya kepemimpinan Islam yang satu, Khilafah ‘ala minhājin nubuwwah.
Wallohu’alam bishowab.
.png)
Comments
Post a Comment
Silahkan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan, jika tidak maka admin akan memasukkannya dalam kategori spam.