“Dan janganlah kamu merasa lemah, dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang beriman.”(QS Ali Imran: 139)
Rohingya: Muslim yang Dihapus dari Peta Kemanusiaan
Di sudut barat Myanmar, terdapat komunitas Muslim yang sejak lama tinggal di tanah leluhurnya, Rakhine. Mereka adalah Rohingya, suku yang telah berabad-abad menghuni wilayah itu. Namun, oleh pemerintah Myanmar, mereka dianggap “pendatang ilegal” dari Bangladesh, meski sejarah membuktikan mereka telah ada sejak abad ke-8.
Rohingya bukan sekadar minoritas, tapi minoritas yang disangkal eksistensinya. Sejak dekade 1960-an, mereka hidup dalam status stateless (tanpa kewarganegaraan). Mereka tidak mendapat akses pendidikan, pekerjaan, dan layanan kesehatan. Namun puncak penderitaan mereka terjadi sejak tahun 2012 dan makin memburuk pada 2017, ketika militer Myanmar melancarkan operasi pembersihan etnis.
Angka yang Membungkam Kemanusiaan
Lebih dari:
- 25.000 jiwa dibunuh
- 18.000 perempuan diperkosa
- 800.000 lebih mengungsi ke Bangladesh
Rumah-rumah dibakar, masjid dihancurkan, anak-anak dibantai. Kamp-kamp pengungsian di Cox’s Bazar (Bangladesh) menjadi tempat pelarian terbesar, namun kondisinya penuh kemiskinan dan penderitaan.
Ini adalah genosida terang-terangan yang disebut PBB sebagai "contoh pembersihan etnis yang paling jelas di dunia modern."
Rohingya adalah bagian dari umat ini. Mereka adalah saudara seakidah, seibadah, sehati. Maka penderitaan mereka bukan sekadar berita, tapi ujian bagi akidah kita.
“Barangsiapa tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin, maka ia bukan dari golongan mereka.”(HR Al-Hakim)
Rohingya telah menjadi korban karena keislaman mereka. Mereka dizalimi karena syahadat yang mereka pegang teguh. Maka wajib bagi umat Islam seluruh dunia untuk tidak mendiamkan kezaliman ini.
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat menegakkan keadilan...”(QS Al-Hadid: 25)
Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, bukan hanya untuk bangsa Arab atau Indonesia. Ketika manusia diperlakukan tidak adil karena agamanya, Islam hadir untuk membela martabatnya.
“Jihad yang paling utama adalah perkataan yang benar di hadapan penguasa yang zalim.”(HR Abu Dawud)
Dalam konteks ini, menyuarakan penderitaan Rohingya adalah jihad lisan. Apalagi mereka telah kehilangan suara, negara, dan haknya sebagai manusia.
Kita hidup jauh dari Rakhine, tapi kita tidak boleh jauh dari rasa peduli.
Berikut ini sikap konkret yang diajarkan Islam terhadap tragedi seperti ini:
Doakan Rohingya dalam setiap munajat. Sampaikan penderitaan mereka dalam qiyamul lail kita. Jangan anggap doa itu lemah—karena doa adalah energi iman yang tak bisa dibungkam oleh senjata.
Banyak orang yang bahkan tak tahu siapa itu Rohingya. Tugas kita adalah menjadi media kebenaran. Sebarkan fakta, bukan propaganda. Islam menuntun kita untuk melawan kebohongan dengan ilmu.
Jika memungkinkan, salurkan donasi kepada lembaga yang menyalurkan bantuan kemanusiaan secara amanah. Tapi ingat, bantuan ini hanya solusi jangka pendek.
Selama umat Islam terpecah-pecah dalam sistem negara bangsa (nation-state), kita akan terus menyaksikan Rohingya-Rohingya lain di masa depan. Hanya dengan kekuatan politik Islam yang bersatu, umat ini akan punya benteng nyata.
Rohingya bukan orang asing. Mereka adalah saudara kita. Ketika mereka kehilangan kewarganegaraan, Islam tetap mengakui mereka sebagai warga umat ini. Ketika dunia mencabut hak hidup mereka, Islam justru mewajibkan kita menegakkan kembali hak itu.
“Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta, kasih sayang, dan kepedulian di antara mereka adalah seperti satu tubuh...”(HR Muslim)
Jika satu bagian tubuh kita berdarah, maka seluruh tubuh ikut bergetar. Maka, jika umat ini diam, itu berarti tubuhnya telah mati.
Tragedi Rohingya bukan hanya tentang Myanmar. Ini tentang dunia yang kehilangan empati. Ini tentang umat yang lupa bahwa Islam pernah menjadi pelindung orang lemah dan simbol keadilan dunia.
Kini saatnya kita membangkitkan kembali peran itu. Dengan iman, ilmu, aksi, dan doa—kita terus menyuarakan hak-hak Rohingya dan semua umat yang tertindas.
.png)
Comments
Post a Comment
Silahkan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan, jika tidak maka admin akan memasukkannya dalam kategori spam.