Standar Kecantikan Duniawi: Antara Amanah Tubuh dan Jeratan Kapitalisme



Fakta yang Tak Terbantahkan

Industri kecantikan global kini telah menjelma menjadi mesin uang bernilai ratusan miliar dolar. Dilansir dari Statista (2024), nilai pasar industri kecantikan dunia mencapai lebih dari $600 miliar, dan diperkirakan terus naik setiap tahunnya. Di Indonesia, tren skincare dan kosmetik halal semakin menjamur, namun di sisi lain, terjadi peningkatan permintaan terhadap prosedur estetik medis, mulai dari filler hingga operasi plastik.

Tak hanya wanita dewasa, remaja hingga anak-anak kini menjadi sasaran pasar. Konten "glow up", "no make-up make-up look", dan "perfect skin routine" membanjiri media sosial, menciptakan standar kecantikan yang kian sempit dan menjauh dari fitrah.

Namun, pertanyaannya: Apakah semua bentuk perawatan itu dibolehkan dalam Islam? Ataukah sebagian justru menjerumuskan muslimah dalam jebakan sistem kapitalisme?

Analisis: Kecantikan dalam Cengkeraman Kapitalisme

Islam tidak pernah melarang wanita untuk menjaga kecantikannya. Justru, merawat tubuh adalah bagian dari syukur atas nikmat Allah. Rasulullah saw. bersabda:

"Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan."
(HR. Muslim)

Namun, ketika konsep kecantikan dikendalikan oleh industri kapitalisme, niat untuk merawat diri bisa bergeser menjadi obsesi untuk memenuhi standar pasar. Kecantikan dipersempit pada bentuk fisik: kulit putih, hidung mancung, wajah simetris. Maka tak heran, banyak wanita tergoda mencoba produk berbahaya, mengubah bentuk wajah, bahkan melakukan operasi plastik demi “penerimaan sosial”.

Padahal, Islam telah meletakkan batas yang tegas terhadap apa yang boleh dan tidak dalam hal mempercantik diri:

  1. Skincare dan Make-Up

    • Diperbolehkan selama halal, tidak membahayakan, tidak berlebihan, dan tidak menyeret pada tabarruj (bersolek berlebihan di hadapan non-mahram).

    • Menggunakan make-up untuk menyenangkan suami dalam ruang privat adalah ibadah.

    • Namun, bersolek untuk publik (misalnya demi konten) bisa melanggar batas syar’i.

  2. Tindakan Medis Estetik

    • Mengonsumsi suplemen halal untuk menjaga kesehatan kulit boleh, tapi jika mengandung zat haram atau berbahaya, hukumnya jelas dilarang.

    • Operasi plastik dengan tujuan mengubah ciptaan Allah karena tidak puas terhadap takdir wajah adalah haram. Hal ini termasuk dalam larangan keras sebagaimana sabda Nabi saw.:

“Allah melaknat wanita yang mentato dan yang meminta ditato, wanita yang mencukur alis dan yang meminta dicukur, dan wanita yang mengubah ciptaan Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Solusi Islam: Kecantikan dengan Ridha, Amanah, dan Syariat

Islam memandang kecantikan bukan sekadar fisik, tapi keshalihan, akhlak, dan ketundukan kepada aturan Allah. Maka solusi atas kegamangan muslimah terhadap standar kecantikan dunia adalah dengan mengembalikan persepsi kita kepada:

  1. Makna Kecantikan Sejati

    • Kecantikan adalah amanah, bukan untuk dipertontonkan. Tubuh ini milik Allah, dan akan dimintai pertanggungjawaban.

  2. Menjaga dengan Cara Halal

    • Gunakan skincare dan kosmetik halal. Pilih yang alami, tidak membahayakan, dan tidak menyebabkan ketergantungan.

    • Bersolek di tempat yang tepat: untuk suami dan lingkungan sesama wanita, bukan untuk konsumsi publik.

  3. Membangun Rasa Ridha terhadap Takdir

    • Stop membandingkan diri dengan standar industri. Ridha terhadap bentuk wajah, warna kulit, dan tubuh kita adalah bagian dari iman.

  4. Negara Berbasis Islam Akan Lindungi Muslimah dari Eksploitasi Kecantikan

    • Dalam sistem Islam (Khilafah), industri kecantikan tetap diawasi dengan standar halal dan maslahat umat.

    • Negara tidak akan membiarkan kapitalisme menjadikan tubuh wanita sebagai objek komoditas. Iklan berstandar syar’i akan diterapkan, dan edukasi tentang kecantikan sesuai Islam akan dibina sejak dini.

Penutup

Kecantikan adalah fitrah. Tapi fitrah harus dirawat dengan syariat. Jangan sampai keinginan tampil cantik justru menjadikan kita budak standar kapitalis dan lupa bersyukur atas takdir Allah. Islam hadir bukan untuk mengekang kecantikan, tapi untuk mengarahkannya pada tempat dan tujuan yang benar.

“Dan sungguh akan Kami uji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)

Wallahu a’lam bishshawab

Comments