"Barang siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum Muslimin, maka dia bukan bagian dari mereka." (HR Al-Hakim)
Wilayah Xinjiang, yang oleh Muslim Uighur lebih dikenal sebagai Turkistan Timur, menjadi saksi bisu bagaimana keimanan bisa menjadi alasan penindasan. Di wilayah ini, lebih dari 12 juta Muslim Uighur hidup dalam cengkeraman rezim otoriter yang ingin menghapus identitas keislaman mereka secara sistematis.
Mereka mengalami:
- Larangan shalat, puasa, memakai jilbab, mengajarkan Qur’an
- Masjid dihancurkan, kitab suci dibakar
- Anak-anak dipisahkan dari orang tua untuk “pendidikan ulang” ala Komunis
- Lebih dari 1 juta orang dipenjara di kamp konsentrasi modern
Di sana, menjadi Muslim dianggap penyakit. Menyimpan Al-Qur’an bisa membuat seseorang “menghilang”. Mengajarkan Islam kepada anak bisa berarti dijatuhi hukuman penjara.
Tragedi Uighur bukan sekadar pelanggaran HAM, tapi bentuk nyata dari genosida budaya dan agama. Tujuannya bukan hanya membunuh tubuh, tapi menghapus Islam dari hati generasi berikutnya.
Organisasi HAM internasional menyebut kebijakan China sebagai:
- Genosida budaya (cultural genocide)
- Tindakan tidak manusiawi yang melanggar Konvensi PBB
- Pemusnahan sistematis terhadap Islam sebagai ideologi hidup
Ironisnya, ini terjadi di era keterbukaan informasi global, namun dunia seakan memilih diam karena kekuatan ekonomi dan politik China.
“Dan siapa yang berpaling dari agama Islam, maka sia-sialah amalannya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.”(QS Al-Baqarah: 217)
Memaksa orang keluar dari Islam atau menghapus simbol-simbol keislaman adalah kezaliman terbesar dalam pandangan Islam. Penindasan terhadap Uighur adalah perang terhadap agama Allah yang harus dikutuk dan dilawan oleh seluruh kaum Muslimin.
“Perumpamaan kaum Mukminin dalam kasih sayang dan persaudaraan seperti satu tubuh: jika satu bagian sakit, seluruh tubuh ikut demam dan tidak bisa tidur.”(HR Muslim)
Mereka adalah bagian dari kita. Diam terhadap penderitaan mereka adalah pengkhianatan terhadap ukhuwah Islamiyah.
Islam bukan hanya agama ibadah ritual, tapi agama peradaban dan keadilan. Ketika umat ini kehilangan kekuatan politik global, maka umat Islam di mana-mana jadi bulan-bulanan kekuasaan dzalim.
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkan dengan adil.”(QS An-Nisa: 58)
Jangan sepelekan kekuatan doa. Doakan Muslim Uighur dalam setiap sujud dan munajat. Jadikan mereka bagian dari tangisan kita di malam hari.
Media milik China menyebarkan narasi bahwa kamp konsentrasi adalah "pusat pelatihan kerja". Tugas kita adalah membongkar kedustaan itu. Edukasi masyarakat dengan data yang jujur.
Beberapa perusahaan global terlibat dalam eksploitasi tenaga kerja Uighur. Gunakan kekuatan konsumen Muslim untuk memboikot produk yang terlibat dalam kezaliman ini.
Selama umat Islam tak punya kekuatan global, kita hanya bisa menangis dan menyaksikan saudara kita dibungkam. Islam memerintahkan kita membangun kekuatan politik dan perisai umat (junnah).
Mereka tetap menjaga iman di tengah ancaman. Mereka tetap menyebut nama Allah dalam ruang-ruang yang dikepung kamera dan senjata. Mereka adalah pahlawan dalam sunyi, syuhada dalam penantian.
“Akan datang suatu masa di mana orang yang berpegang pada agamanya seperti menggenggam bara api.”(HR Tirmidzi)
Mereka hidup di masa itu. Mereka sedang menggenggam bara. Apakah kita akan membiarkan mereka terbakar sendiri?
Doa itu penting, tapi Islam mengajarkan kita untuk menjadi perisai, bukan hanya pengamat yang menangis. Saatnya umat ini:
- Bangun kesadaran akan persaudaraan lintas batas.
- Tinggalkan sekat nasionalisme sempit.
- Serukan tegaknya sistem Islam yang menjadi pelindung aqidah dan darah umat.
Karena hanya dengan itulah, tragedi seperti di Xinjiang tidak akan terulang lagi di tempat lain.
.png)
Comments
Post a Comment
Silahkan berkomentar dengan menggunakan bahasa yang sopan, jika tidak maka admin akan memasukkannya dalam kategori spam.